My Story

Sukses Menyusui Saat Sedang Menyelesaikan Kuliah

July 31, 2017 By 0 Comments

Masih kuliah sudah menyusui bayi? Iya, saya memang sudah punya bayi saat sedang berjuang menyelesaikan kuliah saya. Waktu itu, saya memang memutuskan untuk menikah sebelum usia saya genap 20 tahun. Bukan karena “kecelakaan”, namun karena memang sudah siap dan berusaha menjauhi zina sebagaimana ajaran agama saya.

Setahun setelah menikah, saya kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki yang lucu dan sehat. Selama hamil, terus terang saya belum terlalu paham tentang pemberian Air Susu Ibu Eksklusif (ASIX) untuk bayi. Saya hanya sebatas mengetahui bahwa ASI lebih baik untuk bayi, ketimbang susu formula.

Bidan yang membantu mengecek kondisi kehamilan saya juga tidak pernah mengedukasi maupun mengajak saya berdiskusi tentang ASIX. Bahkan seingat saya di rumah bersalin tempat saya melahirkan saat itu, terpajang berbagai merek susu formula bayi.

Baru setelah menjelang detik-detik persalinan, saya mulai mencari-cari informasi mengenai ASIX. Itu pun juga karena ada seorang teman yang memberikan saya informasi mengenai sebuah grup pendukung ASIX di sebuah jejaring sosial di dunia maya. Akhirnya saya bergabung dengan grup tersebut atas saran teman saya.

Dari grup tersebut, saya banyak mendapatkan informasi mengenai pentingnya ASIX serta tata cara pemberian ASIX. Berdasarkan informasi-informasi tersebut, saya jadi bisa memperkirakan masalah-masalah menyusui apa saja yang kira-kira akan muncul di kemudian hari, sekaligus dapat memikirkan apa solusinya.

Akhirnya, hari yang dinanti pun tiba. Sesuai perkiraan, bayi laki-laki saya lahir di rumah bersalin tempat saya berkonsultasi dan mengecek kesehatan kandungan saya. Setelah melahirkan, salah satu merek susu formula yang dipajang di etalase rumah bersalin menjadi “hadiah” untuk saya bawa pulang. Kata pihak rumah bersalin, susu formula tersebut sebagai pengganti ASI saya yang katanya tidak keluar langsung usai persalinan.

Meski mendapatkan oleh-oleh susu formula dari rumah bersalin, namun saya tidak langsung memberikannya kepada bayi saya. Berbekal pengetahuan saya yang masih sedikit tentang ASI, saya pun bertekad menyusui bayi saya. Akhirnya, saya berhasil memberikan kolostrum ASI yang katanya bagus untuk imunitas kepada bayi saya.

Meski demikian, kisah menyusui saya tidak langsung lancar. Sebagai mama baru, saya juga sempat panik saat bayi saya menangis dan rewel. Apalagi, memang ASI saya sedikit saat awal-awal menyusui. Saya pun sempat menyerah, mengambil keputusan memberikan susu formula “hadiah” dari bidan.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Perasaan bersalah karena tidak memberikan ASIX dengan maksimal kepada si kecil pun hadir. Selain itu, bayi saya mengalami bingung putting akibat pemberian susu dengan botol dot.

Akhirnya, saya berikhtiar untuk stop susu formula dan memperbaiki posisi pelekatan menyusui. Seorang teman kemudian merekomendasikan saya pompa ASI supaya saya bisa sering memerah ASI. Konon katanya sering-sering memerah ASI bisa menambah produksi ASI.

Suami saya pun akhirnya membelikan sebuah pompa ASI di apotek. Meskipun harga pompa ASI pada saat itu tidak murah, namun demi memberikan anak ASI, kami pun mengusahakannya.

Setelah memiliki pompa ASI, saya pun rajin memerah ASI. Usaha tersebut membuahkan hasil. ASI saya menjadi berlimpah dan lancar. Pertumbuhan anak saya pun sesuai harapan.

Tak lama kemudian, menjelang tiba waktunya saya harus kembali ke bangku kuliah, saya menggali banyak informasi mengenai manajemen ASI. Bagaimana cara dan waktu pumping, serta bagaimana cara penyimpanannya nanti. Sebab, saat kuliah mulai nanti, saya tidak mungkin membawa bayi saya ke kampus.

Selama kuliah si kecil saya titipkan kepada ibu mertua. Kebetulan, rumah mertua saya tidak jauh dari kampus. Jadi, setiap hari, sebelum berangkat kuliah, saya harus mengecek persediaan ASI perah (ASIP) dalam lemari es. Saya melabeli dengan nomor botol ASIP mana yang harus diberikan terlebih dahulu ke[ada si kecil pada hari itu. Alhamdulillah, ibu mertua saya mendukung cara pemberian ASIP semacam itu untuk cucunya.

Alhasil, selama saya kuliah, masalah pemberian ASI tertangani dengan baik. Namun, masalah berikutnya datang ketika saya harus menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), Praktek Latihan Profesi (PLP), dan menyusun skripsi.

Saya pun berusaha memohon lokasi KKN yang dekat dengan tempat tinggal Untungnya, pihak kampus memaklumi dan menyetujui permohonan saya. Bahkan, pihak sekolah tempat saya KKN mengizinkan saya membawa bayi saya ke sekolah. Saya boleh memanfaatkan ruang UKS sebagai ruang untuk menyusui bayi saya, kala itu.Teman-teman satu kelompok KKN juga mendukung saya tetap menyusui bayi saya meski sedang KKN.

Namun, tantangan menyusui yang lebih berat saya rasakan ketika melakukan PLP di salah satu kantor instansi pemerintah. Berbeda dengan masa KKN, selama PLP saya tidak boleh membawa bayi saya ke kantor. Selama sebulan penuh saya jadi paham perasaan working mom yang berjuang memberikan ASI kepada bayinya.

Mau tidak mau, saya harus memperbaiki manajemen ASI saya. Saya juga harus meluangkan lebih banyak waktu untuk memerah ASI. Setiap hari, saya datang ke kantor membawa pompa dan botol-botol ASI. Saya pun harus rela memerah di tempat yang seadanya. Sebab, pada waktu itu di kantor tersebut belum ada ruang laktasi. Jadi, saya memerah ASI di mushola.

Setelah PLP berakhir, berikutnya adalah menyelesaikan skripsi. Saya masih ingat betapa badan rasanya remuk redam, usai mengerjakan mengetik skripsi, saya enggak bisa langsung istirahat. Melainkan harus menyusui anak dan juga memerah ASI untuk persediaan jika saya ke kampus.

Ingin rasanya marah, menggerutu, mengeluh, dan lain sebagainya. Saat orang lain bisa tidur pulas, saya malah jadi makhluk nocturnal demi memerah ASI. Namun, saya selalu ingat bahwa di balik semua kesusahan yang saya hadapi, pasti akan selalu ada kemudahan. Saya menjalani hari-hari seperti itu sampai saya berhasil menyelesaikan skripsi saya.

Waktu pun berlalu, tidak terasa bayi laki-laki saya kemudian berusia dua tahun. Bersamaan dengan itu, si kecil berhasil lulus S3 ASI. Malah, ketika masa itu tiba, saya yang berat menyapihnya 😀 .

Semoga cerita saya ini bisa menginspirasi mama-mama semua ya. Bahwa, begitu kita memutuskan untuk memberikan ASI kepada bayi kita, sesulit apapun tantangannya, pasti ada jalan keluar. Selama kita mau berusaha. Begitu pula, saat logika kita memutuskan ingin menyerah saja, sebaiknya mama berdoa, memohon kekuatan kepada Tuhan. Selalu yakin, bahwa di balik semua kesulitan itu, pasti selalu ada jalan keluarnya. Semangat menyusui si kecil ya mama!

***

Kisah ini diceritakan oleh Mama Tetty Hermawati. Mama dari dua anak laki-laki ganteng bernama Kifah dan Aldebaran. Mama bisa berkenalan dengan Mama Tetty Hermawati melalui blognya: www.tettytanoyo.com .



0 Comments on "Sukses Menyusui Saat Sedang Menyelesaikan Kuliah"


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a Reply