My Story

Perjuanganku Melahirkan Normal Meski Dalam Kondisi Sakit

June 7, 2017 By 0 Comments

Enam bulan penantian setelah pernikahan, Alhamdulillah positif hamil. Bulan Desember waktu itu. sebelum aku tahu kalau aku hamil, aku masih menjalankan aktivitas dan rutinitas serta kebiasaan jelekku kebut2an naik motor, bercapek-capek ria dengan jalan-jalan ke Mall, dan tentu saja, kuliah. Tapi setelah tahu, aku sangat berhati-hati sekali bahkan sama sekali tidak boleh baik motor, so kalau mau kemana-mana aku selalu minta anter suami (Aby).

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan aku lalui dan sangat aku nikmati masa kehamilanku. Dimana aku selalu memperhatikan setiap perubahan perutku yang kian hari kian membesar, tentu saja ini adalah pengalaman pertamaku karena ini kehamilanku yang pertam, dan tentunya menurutku,  hamil itu seksi banget. maka dari itu aku tidak mau melewatkan satu minggu pun untuk tidak foto-foto.

Saat usia kehamilanku 28 minggu, kondisi badan dan kesehatanku malah menurun, aku gampang sakit, demam dan batuk-batuk terus, ada yang bilang batuk-batuk itu adalah gawan bayi, tapi kalo menurut medis jelas itu penyakit yang harus diobati. Yaahh, demi si jabang bayi yang ada di dalam kandunganku, akhirnya tanggal 28 Mei 2012 aku mondok di Rumah Sakit Permata Medika Semarang untuk opname agar mendapatkan merawatan lebih intensif dan mendapatkan pantauan dari dokter.

Lima hari aku menjalani perawatan, menjalani terapi seperti fisioterapi, nebul dan terapi lainnya. Pantauan dari dokter spesialis penyakit dalam dan spesialis kandungan pun tiap hari aku dapatkan, setelah keadaanku semakin membaik aku diperbolehkan untuk pulang. Setelah keluar dari rumah sakit, akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua di Kesesi Pekalongan, dengan tujuan biar dirawat di rumah, serta supaya dekat dengan keluarga.

Kebetulan saat aku sedang sakit, proses perkuliahan pun sedang masanya ujian semesteran. Untungnya semesteran saat itu bukan berupa tes langsung, tetapi hanya diberi tugas dan membuat karya ilmiah dan dikirim ke email dosen yang bersangkutan. Oleh sebab itulah tugas semesteran dapat aku kerjakan di rumah dengan santai serta berharap tugas tersebut tidak mengecewakan..

Memasuki usia kehamilanku 32 minggu dan tepat satu bulan setelah masuk rumah sakit di Semarang, penyakit serupa kambuh lagi dan mengharuskan aku untuk opname untuk yang kesekian kali. Atas rekomendasi dokter aku akhirnya menjalani rawat inap di Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan. Saat dirawat di RSI Pekajangan, aku juga menjalani perawatan serta terapi sebagaimana yang aku dapat saat aku dirawat di RS Permata Medika Semarang, bahkan aku mendapatkan diagnosa penyakit baru yaitu Sepsis (infeksi darah).

Khawatir dengan janinku, akhirnya pihak rumah sakit menyarankan untuk melakukan USG, dan hasilnya sangat aku syukuri karena bayiku dalam keadaan sehat walafiat tidak terpangaruh dengan sakit yang aku alami dan obat yang aku konsumsi. Kurang lebih 3 hari, aku menjalani perawatan, aku sudah nggak betah banget di Rumah Sakit akhirnya atas ijin dokter aku diperbolehkan pulang. dan karena aku rasa keadaanku sudah membaik, tetapi dengan syarat harus rawat jalan dan kontrol. Haaahh! capek dengan itu semua memang, tapi aku terus berusaha mencari solusi untuk kesembuhan penyakitku ini, tanya sana sini. Beruntung ada salah satu dari kenalan yang menyarankan untuk berobat herbal. Hmmm, apa salahnya aku mencoba, yeah akhirnya akupun menjalani terapi obat herbal.

Bertambah usia kandunganku, rasa nyeri dan his palsu pun sudah mulai aku rasakan, rasa sakitnya memang beda, dan nggak pernah aku rasakan sebelumnya. Bulan Ramadhan datang, aku bersyukur karena bisa berjumpa dengan bulan penuh ampunan ini. Di awal-awal Ramadhan, aku masih bisa berpuasa, tetapi memasuki pertengahan Ramadhan, penyakitku kambuh lagi dan menurut Bidan, aku dianjurkan untuk tidak berpuasa sampe akhir Ramadhan.

Malam 1 Syawal, di saat Takbir berkumandang, aku merasakan sakit yang luar biasa, sampai aku nggak bisa berjalan. Aku kira ini adalah his palsu usia kehamilanku yang makin tua. aku telepon Bidan, katanya iya benar, aku disuruh sabar menunggu. Katanya masih sekitar tiga hari atau satu minggu lagi persalinannya, mengingat HPL-ku adalah tanggal 4 September 2012.

Singkat cerita, saat usia kandunganku 39 minggu aku periksa ke dokter kandungan di Klinik Rumah Bersalin Aisyiyah bersama Aby. Saat USG, kata dokter keadaan bayiku sudah mapan berada di panggul, tetapi kalung usus dan cenderung susah lahir plus ukuran panggulku yang sempit. Saat konsultasi dengan dokter, serta curhat tentang riwayat penyakitku, akhirnya terucap satu solusi yaitu di suruh operasi caesar (SC).

Oohh NO!! bagiku, SC adalah pantangan bagiku. Prinsipku walaupun ini sangat memaksa dan sangat keras kepala, “Hidupku cuma sekali, sedari kecil aku diberi ujian menjadi orang yang penyakitan, aku bisa hidup sampai sekarang, aku bisa merasakan hamil, saat hamil juga aku bolak balik rumah sakit, aku berjuang untuk sehat jadi aku juga pengen bisa merasakan lahiran normal, dengan cara apapun yang penting bukan SC”. Ketika itu tawar menawar sengit dengan dokterpun terjadi dan dengan ngototku yang nggak mau SC.

Akhirnya dokter menawarkan “Bagaimana kalo normal tapi pacu? Tapi, Ibu harus yakin kalau ibu bisa dan percaya pada Allah ya, insyaAllah Allah memudahkan.” Dalam bathinku lega, dan terucap “Ya, iya lah mosok ora percoyo mbi sing gawe urip?”

Kamis dini hari, runyam-runyam di perutku makin terasa dan semakin sering, spontantly aku minta diantar ke Rumah Sakit. Saat itu aku nggak mau ambil resiko, tapi ya kembali dengan tekad dan niatku itu. jam 00.00 aku masuk ke Ruang Bersalin, dengan niat pengen melahirkan Normal. Dengan tekad bulat aku ingin membuktikan kalo aku bisa menjadi wanita yang sempurna di mata Abyku.

Tapi aku memang belum beruntung, menunggu 24 jam lebih, ternyata belum nambah pembukaan yaitu masih pembukaan satu jari longgar. Malam harinya setelah kurang lebih 26 jam aku merasa kesakitan, ibuku bilang ke Bidan untuk lakukan SC saja. Karena Ibuku sudah tidak tega melihat aku pucat dan nggak berdaya di ranjang, bahkan sesekali nafasku tersengal-sengal. Aby pun setuju dengan Ibuku supaya aku SC saja. Terlebih perasaan Aby saat itu yang carut marut menghawatirkan keadaanku dan si jabang bayi. Tidak cuma Ibu dan Aby, bapakku pun menyuruh aku untuk tidak keras kepala dan membujuk aku supaya mau lahiran SC. Dengan alasan penyakit yang ada di dalam tubuhku membahayakan proses persalinan. Dalam bathinku, kenapa mereka seperti itu? Kenapa tidak memberi kesempatan buat aku bisa menjadi wanita sempurna dengan lahiran normal? Kenapa mereka juga seakan tidak percaya keajaiban dan pertolongan Allah?

Suasana malam itupun pecah, aku tetap ngotot dengan pendirianku untuk lahiran normal, dengan cara apapun. Akhirnya, tidak ada pilihan lain bagiku untuk mau tanda tangan tindakan (pacu). Singkatnya, pukul 23.30, aku mulai disuntik obat pacu. beberapa menit kemudian aku merasakan mulas-mulas, tapi hebatnya aku, aku masih bisa buka Facebook sekedar penghilang rasa sakit, hahaha.

Sampai sekitar jam 03.00 pagi, rasa runyam dan mulas itupun makin nyata. Saat itu tidak ada kata lain yang terucap selain kalimat thoyibah menyebut asma Allah dan dzikir-dzikir sebisaku. Pukul 07.00 di periksa Bidan, ternyata nggak nambah pembukaan. Ya Allah, ada apa ini? Tidak nambah? Terus apa fungsi obat pacu yang semalaman disuntikkan? Lalu, apa imbal balik dari sakit yang selama 8 jam aku rasakan?

Aku emosi? Ya lah. Aku terus berusaha menahan rasa sakit itu dan selalu berdoa kepada-Nya. Pecaahhh suasana saat itu. Tau nggak? Ibuku menangis, tak ketinggalan Aby yang mendadak pucat, bapakku langsung ngomong, SC!

Dalam hatiku, kenapa SC dan SC sih yang dari kemaren diucapkan? Aku nggak mau!

Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi (Jumat, 31 Agustus 2012). Di samping kiri ada Aby, di samping kanan ada ibuku. Dalam hatiku berbisik sebelum terlambat, dan aku nggak mau sampe terlambat, aku pun meminta maaf kepada Aby dan ibuku. Mungkin selama aku hidup aku banyak salah, mungkin aku diberi rasa sakit dan susah melahirkan juga karena tulah atau ganjaran dari Allah. Paling tidak aku introspeksi diri, tidak mau menyalahkan siapa-siapa, tapi aku harus ngrumangsani kalo aku juga manusia yang banyak salah dan dosa. Karena benar nyata saat orang mau melahirkan yang ada dalam pikirannya hanya kata “hidup” atau “mati”. Iya, kan?

Runyam dan sakit itu pun sangat aku nikmati, yang tadinya dua menit sekali, menjadi satu menit sekali, Kian cepat kian cepat menjadi persekian detik. Sambil tengok jam dinding yang ada di ruang tindakan, jam 08.45 kok belum lahir juga. Sifat pesimis mulai menggrogoti perasaanku, SC tidak, SC tidak. Arrrghh, berontak dalam hati, kalo aku mau di SC, rasanya sia-sia dan percuma aku merasakan sakit ini selama 10 jam lebih, saat itu Ibuku memeluk aku erat, seakan nggak mau lepas dan seakan benar-benar aku akan mati.

Aku tengok Aby, tak henti-hentinya mulut Aby berdzikir dan membacakan aku Surat Al-Insyiroh secara terus menerus. Begitu pun aku yang tidak pernah berhenti berdzikir sebisaku. Hmmm, yang aku ingat, saat aku baca dua kalimat syahadat, seketika itu pula Ibuku menangis. Kira-kira apa yaa yang ada di pikiran ibuku saat itu? Tentunya karena rasa sayang Ibuku duonk, makanya khawatir 🙂

Kata Bidan sudah pembukaan lima, nggak lama lagi lahirnya. Sabar, tenangkan pikiran. Bombong banget hatiku karena Bidan bilang gitu. Malah katanya, aku itu hebat karena ngebantah saran dokter untuk SC pula. Hehe. Kata-kata itu yang membuat aku semakin semangat untuk membuktikan ke dokter kalo SC itu bukan satu-satunya solusi untuk aku melahirkan. Masalah penyakit yang ada di dalam tubuhku itu dari Allah, kalau pun Allah menghendaki aku bisa, kenapa dokter bilang nggak bisa? Ya, kan?

“Ayoo, tarik nafas. Buang, tarik nafas, buang perlahan!” ucap Bidan saat itu. Aku sih nurut aja, yang penting hatiku nggak tidur untuk selalu ingat sama Allah dan selalu berdoa untuk dimudahkan. Waktu sudah menjukkan jam 09.10 menit. Kata bidan sudah bertambah pembukaan menjadi pembukaan delapan. Aarrgghh lamaaa. Tapi aku ngrasa kalau ada bagian yang digunting gitu dan aku ngrasa langsung perih banget. Saat itu pula Aby nggak kuat, dia pun langsung keluar kamar. Katanya sih mau sholat sunnah mutlak dan baca Surat Maryam 3x dihususkan untuk aku supaya dimudahkan.

Perjuangan itu benar-benar semakin aku rasakan, setelah itu ketuban pecah. Bidan menyuruhku terus tarik nafas dan buang nafas. Entah apa yang dilakukan bidan saat itu, yang aku tau aku capek banget, Ngantuk banget, tanganku megang kakiku, dan disuruh ngejan, tapi aku bener-bener rasa kehabisan nafas. Hhhhhhhfff, tabung oksigenpun dipasang. Ya Allah, rasanya waktu berjalan begitu lambat 🙁 .

“Kepala sudah kelihatan, rambut sudah kelihatan, ayooo ngeden sing kuat” teriak Bidan.

Hiks, aku berusaha untuk ngejan sekuat tenaga, berkali-kali gagal keluar karena nafasku tersengal-sengal, dan kepalanya masuk lagi.haahhhhh begitu terus sampe berkali-kali, aku nggak tau lagi harus gimana, Bidan yang satunya langsung ngetes detak jantung bayiku, alhamdulillah masih baik, Sesekali aku melihat wajah Ibuku, sangat penuh harap. aku melihat air mata terus meneter dari mata ibuku. Aku pun bilang ke ibu sambil merintih kesakitan, “Aku minta tolong Ibu jangan nangis yah, karena kalau Ibu nangis, nanti aku ikut nangis dan nafasku jadi tambah sesak”

“Nggeh, Pit,” jawab Ibuku menguatkan aku.

Jarum jam terus berjalan, aku pun terus berusaha mengeluarkan kepala anakku. Dan, pukul 09.25 kepala anakku berhasil keluar, tapi si bayi nggak langsung nangis. Ternyata air ketuban sudah ada yang masuk. Bidan pun dengan cekatan memberi tindakan ke bayiku. Alhamdulillah dalam hitungan detik, bayiku menangis.

Semua sambut dengan gembira, lagi-lagi tak henti-hentinya aku ucap kalimat syukur alhamdulillah. Aby langsung mengadzani bayiku yang berjenis kelamin perempuan dan aku beri nama Noofa.

Yaahh, kini aku bener-bener nyata menjadi seorang ibu dan bisa melewati semua step-step untuk menjadi seorang Ibu dari menikah, hamil, melahirkan normal dan sekarang aku mengasuh, menyusui, merawat Noofa dengan penuh kasih sayang. Sungguh tidaklah mudah jika hanya membayangkan, tapi akan sangat mudah bila kita menjalaninya. apalagi jika dengan kebulatan tekad, ketulusan niat dan kemantapan hati serta percaya diri bahwa kita bisa menjadi apa yang kita impikan dan mewujudkan apa yang kita inginkan, sekalipun kadang bertentangan dengan apa yang seharusnya terjadi. Seperti halnya aku yang sudah membuktikan walaupun aku penyakitan dan dianjurkan SC, tapi nyatanya aku bisa kan melahirkan normal walaupun dengan tindakan dan bantuan tabung oksigen.

***

Penulis adalah Noorma Fitriana M. Zain, seorang Ibu Rumah Tangga dengan satu anak perempuan yang cantik. Hobby menulis dan berselancar di dunia maya.  Berasal dari Kesesi – Pekalongan dan kini domisili di Semarang. Bisa dihubungi lewat blognya: http://www.noormafitrianamzain.com/



0 Comments on "Perjuanganku Melahirkan Normal Meski Dalam Kondisi Sakit"


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a Reply