My Story

Mom is Reflection of WOW

December 9, 2017 By 0 Comments
 Dedek, anak yang kuat kan?. Aku percaya itu. Meyakininya setelah melewati masa kehamilan yang tidak mudah. Mual hebat terjadi selama kurang lebih 6 bulan. Ingat ? Saat itu aku masih bekerja, dalam jarak yang cukup jauh yaitu 15 km, Depok Ciracas. Masa masa kehamilan adalah masa masa yang penuh keberuntungan, aku bisa merasakan rasa peduli dan cintamu yang begitu besar, rela memberikan makanan apapun semalam apapun, pada waktu yang bagaimanapun. Meski pada akhirnya makanan itu keluar lagi. Perjalanan jauh antara rumah kontrakan yang luar biasa unik ( 3 lantai dengan kamar di lantai 2 dan dapur serta kamar mandi di lantai 1), dengan kantorku itu kita isi dengan membaca almatsurat dan murojaah juz 30. Kau tahu..aku merindukan hal itu. Setiap beberapa meter saat angin mulai terasa kencang, kita berhenti, mengakrabi muntah yang tak kenal tempat, dan bahagianya kamu tetap sabar, suamiku. Kita telah berjalan jalan ke tempat yang jauh, dengan mual yang selalu akrab, sampai kandunganku berusia 9 bulan, keputusan itu tercipta. Melahirkan di desa kelahiranmu, Ciamis. Terimakasih telah peduli, rela berpisah jarak demi terjaganya aku dan bayi kita. Kamu tidak yakin meninggalkanku sendiri di rumah kontrakan dengan seorang bayi karena aku newbie, aku sadar itu. Dan akhirnya kita berangkat dengan bis ke Ciamis. Saat itu hari hujan begitu deras, namun aku merasa sangat kuat dan bisa menyamai langkahmu. Kamu bilang “ Ayang santai saja ya ,jangan terlalu capek” Kita pun sampai dan disambut oleh bapak serta mamah dengan wajah ceria.. Desa selalu membuatmu rindu, aku tahu, kamu selalu enggan untuk kembali ke kota terlebih disini kamu punya orang orang yang kamu cintai. Alhasil jadwal pulang minggu, malah mundur menjadi senin. Tibalah aku di rumahmu sendiri hanya bersama mamah danbapak. Mereka perlakukan aku seperti anak perempuannya sendiri.Dan petualangan baru pun dimulai setelah kamu kembali ke depok. 28 oktober 2017 sejak malam sakit sekali rasanya ada kontraksi yang hebat, perut mengencang dan menegang seperti sedang diperiksa tekanan darah tapi yang memeriksa terus saja memompa. Itu terjadi pada dini hari, mama menyarankan memanggil bu bidan tapi kubilang tidak usah kasihan lagi pula diluar hujan dan ini sudag dini hari. Bidan disini bisa dipanggil ke rumah karena beliau kenalan dekat bapak . Siang harinya barulah terjadi lagi yang lebih parah, usus seakan di putar putar dan ditarik tarik, melilit menegang dan mengencang, begitu berulang ulang. Mama kebingungan, bapak sedang pergi ke Kudus, tidak ada laki laki di rumah, sementara menjemput bidan harus dengan motor. Akhirnya teh Dede tetangga sebelah berinisiatif agar suaminya menjemput bidan. Bidan pun datang 20 menit kemudian, aku diperiksa dan ternyata belum ada pembukaan juga. Bidan memasang wajah heran dan was was… ia mengatakan sudah kontraksi lama tapi belum ada pembukaan juga.. katanya pada mama, “sepertinya harus ke dokter neng, di usg… khawatir bayinya terlanjur capek di dalam. Nanti kasihan tidak bisa keluar. “Katanya lagi. Mamah menelpon mu, meminta saran bagaimana seharusnya, tapi kamu bilang mungkin memang belum waktunya, sementara aku hanya bisa menahan rasa sakit. Akhirnya bidan membujukmu untuk mengizinkan aku diperiksa dokter laki laki di Banjar , yang jaraknya sekitar 15 km dari rumah. Kamu agak kurang setuju, dan akhirnya teh Ecin kakak sepupumu menyarankan untuk diperiksakan saja ke bidan Erna , ada alat USG disana… Akhirnya dengan diantar Bibi mu dan pamanmu , aku , mamah, bu bidan dan teh ecin pergi ke bidan Erna. Mama sudah persiapan segal perlengkapan persalinan di tas ransel, dan lagi lagi kamu agak tidak setuju, karena menurutmu ini hanya USG saja, belum waktunya persalinan. Sesampainya di Bidan Erna, pasien banyak mengantri, aku terpaksa menunggu agak lama. Di dalam ruangan periksa saat tiba giliranku, Bidan Erna menyuruhku terlentang tanpa diberikan bantal. Bayangkan betapa susah dan sakitnya terlentang di usia kehamilan 38 minggu dengan bobot bayi janin yang lumayan besar. Seperti ada yang menyodok pernapasan dan dadaku. Sesak sekali dan kencang seperti mau meletus. Bidan Erna yang tidak fokus karena banyak pasien seenaknya saja mengoles oles perutku dan menggosok gosok dengan alat USGnya. Lalu dia mencolok jalan lahir ku dengan kasar memakai tangannya,Dan mengatakan kepada Mama kalo bayinya sih sudah dibawah, tapi kepalanya nunduk jadi tidak bisa masuk jalan lahir, kalo seperti ini dan kontraksi terus takutnya bayi kecapean dan habis oksigen. Jalan satu satunya harus SC (Sesar) , dan SC di rujuk ke RSB Banjar dengan dokter Imam, dokter yang tadi di rekomendasikan bidan Haji Henny. Semuanya panik, mamang dan bibi pun panik. “Ya kalau SC emang keputusan terbaik ya bismillah saja lah… ” kata bibi.. Mamang pun mengiyakan. Mobil pun melaju ke Banjar sambil di sepanjang perjalanan menelponmu, kamu yang disana sudah bersiap pulang kesini, membelikanku kue ulangtahun dan sebuah dress pink yang cantik. Saat itu sudah hampir magrib dan kami tiba disana tepat saat magrib. Bi Kisah mengatakan kamu menelponnya, dan menyuruh tetap tenang, dan jangan ambil keputusan sebelum kamu datang. Lalu segera pulang jika tidak terjadi apapun. Sekitar sejam kemudian aku masuk ruang periksa yang begitu tenang dan sejuk. Wajah dokter dan perawat juga tidak semenegangkan wajah Bidan Erna. Aku di USG dengan tenang dan nyaman, ada bantal dan tidak disuruh buru buru seperti mengejar KRL comuter line. Dokter bilang semuanya bagus, kepala sudah di bawah berat badan normal, hanya saja bayi sedang sangat aktif jadi ibunya disuruh bersabar menunggu waktu persalinan yang sekitar seminggu lagi. Kami tercengang, menunggu kata kata dokter selanjutnya, mungkin saja ia akan menyuruh menginap untuk segera melakukan SC kepadaku. Ternyata, “Ngapain menginap, sudah selesai kok.. perkiraannya masih jauh… tenang saja ” katanya. Aku dan semuanya pun lega karena tidak jadi SC. Hanya saja kamu, tidak jadi pulang karena aku masih lama perkiraan melahirkannya. Aku pikir dedek akan lahir di hari lahirku 29 oktober. Aku pikir kamu akan datang di hari ulangtahunku…ternyata… Qodarullah semua diluar perkiraanku.Tapi setelah hari itu, pada 31 oktober dini hari rasa sakit kembali muncul, kali ini lebih bersahabat dari sebelumnya, mama berhenti mengusap usap pinggang dan punggungku, kebiasaannya setiap kali aku kesakitan di malam hari, karena aku minta izin ke kamar mandi untuk BAB. Aku mengejan lama tapi BAB tidak keluar, yang ada hanya mules yang luar biasa semakin bertambah tambah. Aku kembali ke kamar . 31 oktober pukul 01.00 dini hari, aku rasanya tidak bisa jalan saking mulesnya. Aku menangis di hadapan mama, mama aku gakuat deh mules banget… Bapak baru saja pulang dari Kudus kemarin.. tentunya sedang lelah lelahnya. Tapi mama khawatir padaku, ia meminta bapak menjemput bidan.. Mulesnya semakin terasa, bahkan ada sedikit darah yang keluar dan flek kecoklatan. Aku panik, jujur saat itu aku belum bisa membedakan flek itu tandanya apa dan darah itu tandanya apa.. Pukul 03.00 bu Bidan datang setelah bapak lama menunggu di depan rumahnya, akhirnya bidan bangun juga dan tiba di rumah… memeriksaku lagi. Dengan perlahan ia memasukan jarinya ke jalan lahir, tapi lagi lagi muka heran yang sama yang kulihat.. “Teu acan neng.. belum ada pembukaan” Tapi kan sudah keluar darah , seruku dalam hati. Sakit sekali rasanya menahan mules dan melihat bidan pulang begitu saja. Kesal, seakan tak percaya kalau aku benar benar mules loh!. Jam 06.00 kesakitan semakin menjadi, seakan rambut, usus , lambung dan perut dijambak jambak..seakan mau BAB yang sangat sangat tapi BAB itu sangat keras. Akhirnya aku dibawa ke Puskesmas terdekat Oleh bi Kisah.. Aku sampai di puskesmas pukul 06.37, segera berbaring di ruang bersalin dan seorang bidan shift malam memeriksaku ternyata sudah bukaan 4… jam 9 – 10 alat alat lahiran sudah siap, dan mules juga semakin terasa tidak berhenti. Durasi dari mules 1 ke mules berikutnya hanya sekian detik, itu berlangsung terus menerus, rasanya seperti lagi diare. Jam 11 bidan memeriksa, ternyata sudah bukaan 8, aku sudah menangis kesakitan terus dipegangi mamah, disuapin makanan oleh teh ecin, teh elas, tetangga tetangga dll banyak sekali orang di ruang persalinan, dan itu satu hal yang kusesali dan membuat aku malu sampai sekarang… tapi namanya saat itu mau lahiran, aku tidak terpikir apapun selain bagaimana caranya mules hilang dan dedek lahir dengan selamat. Pengalaman lahiran pertama membuat bidan dan keluarga tertawa, karena aku sering berseru setiap bidan keluar ruangan, “bidan mau kemana, ih bu bidan kemana sih aku ditinggalin terus” Akhirnya pembukaan lengkap pada jam 12.30 , kamu masih di Tasikmalaya menuju kesini, dan satu satunya yang kuingat ditengah rasa mules yang seperti meruntuhkan tulang tulang, adalah dosa dosaku terhadap keluarga, terhadap teman, terhadap kamu, suamiku.. aku menelpon ibu, menelpon fadhilah temanku di kampus , dan menelpon kamu sambil meminta maaf… aku benar benar tidak percaya diri akan selamat… aku hampir kehabisan tenaga kala itu sebab menahan mules yang luar biasa … rasa kantuk juga sangat hebat sebab aku tidak bisa tidur dari jam 1 pagi… Hingga akhirnya saat saat pertaruhan nyawa itu tiba… dengan membaca bismillah di dalam hati aku mulai mengejan, tapi bidan malah memarahiku karena aku mengeluarkan suara dan tidak menggunakan pernapasan perut. Aku sudah hampir kehabisan tenaga dan hanya bisa meraba raba mungkin kali ini aku mengejan dengan benar. Do’a ketika Maryam melahirkan nabi Isa AS terus ku ucap dalam hati. Alhamdulillah kali ini benar, kepala dedek sudah terlihat di jalan lahir… aku mengejan kembali, kepalanya sudah keluar setengah , dedek terjepit karena aku kehabisan tenaga untuk mengejan… bidan lain memarahiku karena aku memejamkan mata yang sangat dilarang saat melahirkan, aku juga mengangkat pantat di saat mengejan ketiga kalinya, dedek pun Alhamdulillah keluar dengan tubuh yang biru, dan tangisan menggigil kedinginan, bidan bilang hampir kehabisan oksigen karena hidungnya terjepit saat tadi aku berhenti mengejan…. Masya Allah sungguh kuasa Allah yang memberikan kekuatan entah dari mana.. beberapa hari setelah lahiran aku tahu mungkin doa-doa dari orang yang menyayangiku lah yang membuat Allah menolongku. Kamu tilawah di sepanjang perjalanan, dan ibu mebaca surat lukman sambil menangis, dan mamah laku seluruh tetangga dengan doa doa tulusnya, serta teman teman yang tak hisa kusebutkan.. Dedek dibersihkan dari darah dan di letakan di dadaku. Tubuh lemahnya berusaha mencari puting susu dan ia menyusu sementara bidan mengobok-obok vaginaku untuk pembersihan rahim dari darah dan plasenta bayi, semuanya diambil hingga tak tersisa. Perut besar itu telah rata kembali… dan disampingku ada malaikat kecil yang memelukku sambil menyusu… rasanya… seperti manusia yang benar benar dibutuhkan oleh seseorang. Sangat terharu dan bahagia… Ia di adzankan oleh pegawai puskesmas, karena kakeknya dan abinya sedang tidak berada disana kala itu.. Dan tibalah waktunya menjahit jalan lahir yang robek dan lecet. Rasanya dijahit itu seperti ditusuk tusuk dengan besi tajam, meski sudah dibius tetap saja tidak ada pengaruh, sakitnya terasa sampai ke ubun ubun membuat ingin menyerah dan pingsan sejenak agar tidak merasakan apapun…Sekurang kurangnya ada 6 bidan yang mengurus jahitan pasca aku melahirkan Banyak sekali jahitannya karena aku mengangkat pantat yang sangat dilarang ketika melahirkan. 2 bidan kanan kiri memegangi aku dengan keras agar aku tidak bergerak. Aku pasrah tapi reflek tubuh terus bergerak setiap jarum jahit menusuk dalam ke vagina, rasanya menyesakan, menggigit bibir tidak mempan untuk menahan dan mengurangi rasa sakit, menangis juga tidak mempan, terus terngiang perjuangan jihad yang dijanjikan Allah bagi para wanita, jadi begini sakitnya… betapa hebat seluruh ibu di dunia… Bekas jahitan itu menyisakan rasa sakit dengan rasa seakan ada cagak yang menusuk setiap kali duduk. Berjalan seperti ada tali yang mengikat kuat dan akan putus jika salah bergerak. Pada pukul 17.30 bidan menyuruh aku pindah kamar. Mama dan Bapak sedang pulang mengambil pakaian dan keperluanku di rumah, hanya aku dan kamu di dalam kamar itu, kamu membantuku bangun dengan perlahan, untuk berdiri saja tidak memiliki tenaga, seakan tidak memiliki tulang punggung dan pinggang. Aku berusaha berdiri dibantu kedua tanganmu, awalnya membungkuk seperti orang ruku’, kemudian aku mencoba tegak, saat aku mencoba tegak kepalaku berat, seakan darah turun drastis dan membuat semuanya berputar, ingin sekali jatuh dan pingsan tapi kamu selalu menyemangatiku untuk melakukan semuanya perlahan dengan kuat. Akhirnya benar banyak sekali darah mengucur dari jalan lahir, aku ketakutan dan kamu memanggil bidan. Kemudian aku diperiksa kembali, Ya Rabbi… bidan bilang ada yang tidak benar pada jahitan sehingga aku harus dijahit ulang…rasa sakit yang sama akan terulang, dan masya Allah , Allah berikan kekuatan dari arah yang tidak disangka-sangka. Dijahit yang kedua kali ini aku memejamkan mata mencoba untuk tidur, terbayang perjuangan ibuku dulu, terbayang sakitnya terbayang tulusnya dan aku berdoa semoga Allah menempatkan seluruh ibu sholihah di dunia ke dalam syurga. Dua minggu setelah dijahit, bekas jahitan masih terasa lecet, rasanya perih seperti sariawan di daerah vagina. Satu organ saja lecet dan robek sakitnya begitu perih sampai ke ubun ubun… ya Rabbi tak terbayang bagaimana rasanya menjadi orang muslim di Palestina yang telah akrab dengan robekan dan sayatan bekas ledakan bom di sekujur tubuh. Tak terbayang bagaimana para umi melahirkan di Palestina, rasa sakit yang terkalahkan oleh naluri untuk bertahan hidup di tengah serangan Israel. Keajaiban tentang kekuatan yang tidak disangka sangka juga terjadi kepadaku, 2 hari pasca dijahit, rumah sedang ramai dan sibuk karena menyiapkan syukuran untuk malam harinya, sementara dedek menangis dan aku berdiri, aku bisa berdiri !, aku menggendongnya sambil berdiri tegak. Masya Allah… tadinya untuk berdiri saja aku tidak bisa tegak… aku harus membungkuk sedikit agar bisa berjalan. Setelah melahirkan aku sangat me.jaga semua makanan yang masuk ke tubuh. Hanya sayuran dan lauk lauk yang direbus atau dikukus.. seperti pepes ayam, pepes ikan, atau sop ayam dan aku sangat menghindari santan. Menghindari makanan yang membuat kembung, seperti kubis, semangka dan nangka. Aku tidak makan ikan bersisik tajam seperti gurame, lele dll. Aku hanya makan telur, tempe, tahu, ayam, dan sayuran setiap hari. Mimpi buruk etelah melahirkan adalah buang air besar, sangat takut melakukannya karena dibayangi ancaman bidan jika jahitan robek maka akan dijahit ulang. Aku sempat tidak bisa BAB 5 hari, di hari ke 5 alhamduillah bisa karena makan pepaya dan sayuran, serta sugesti bidan yang mengatakan tidak apa BAB asal tidak mengejan.. Sungguh luar biasa perjuangan menjadi ibu.. Alhamdulillah Allah mengizinkanku bersabar melewatinya… Dan aku mengerti… Menjadi ibu berarti melupakan sedalam apapun sakitnya terluka Berarti melupakan penatnya bersusah payah Berarti melupakan kelelahan yang menyita waktu Menjadi ibu berarti belajar menjadi kuat, sebab ibu adalah seseorang yang telah merasakan rasa yang tak pernah terbayang sebelum ia menjadi ibu. Menjadi ibu, berarti berani menjadi lebih super lagi… mempersiapkan sebuah generasi… MOM…is reflection of WOW



0 Comments on "Mom is Reflection of WOW"


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a Reply