My Story

Ibu Bekerja Pun Bisa Sukses Memberikan ASI

June 7, 2017 By 0 Comments

Teman: Nanti kalau kita sudah lulus, kerja, nikah, terus punya anak, masih mau kerja ata enggak?

Saya: Ya, pengennya sih kerja, ya.

Teman: Nanti kalau kita kerja, anak kita minumnya pakai susu formula, dong?

Saya: Iya, ya. Merk sufor yang bagus apa, ya?

Teman: Ada sih merk XXX, katanya komposisinya mirip kayak ASI, tapi harganya mahal.

Saya: Demi anak, mahal juga dibeli.

Saya mendadak teringat percakapan dengan seorang teman kuliah saya waktu di Bandung dulu. Dengan sotoy-nya kami membahas tentang sufor yang komposisinya mirip dengan Air Susu Ibu (ASI), yang akan kami berikan ke anak kami nanti, saat kami punya anak dan tetap bekerja. Tapi, lain dulu, lain sekarang, ya? 12 tahun yang lalu, mana saya tahu kalau ASI bisa diperah dan dibekukan untuk diminumkan ke anak? Dulu, memang saya masih minim pengetahuan mengenai ASI.

Saat hamil, saya mulai mendapatkan pencerahan tentang ASI. Saya dan suami pun tergerak mengikuti kelas EdukASI yang diselenggarakan oleh AIMI. Kami bahkan dua kali ikut kelas EdukASI. Saat melahirkan putri kami, Ziva, kenyataannya awal-awal menyusui tak semudah teori. Banyak drama menyusui terjadi seperti putting bernanah, payudara bengkak sampai saya demam, menyusui sambil meringis kesakitan karena pelekatan yang tidak pas, dan masih banyak drama lainnya. Namun, saya bertahan demi memberi ASI Ekslusif untuk Ziva.

Satu bulan menjelang masa cuti berakhir, saya baru mulai mempersiapkan stock ASI Perah (ASIP) untuk Ziva. Namun, ujian datang lagi saat melatih Ziva minum ASIP. Berdasarkan informasi yang saya terima, sebaiknya bayi tidak minum ASIP dengan botol dot sebab khawatir menyebabkan bingung puting, tersedak, dan beberapa risiko lainnya. Ahirnya saya membeli printilan media minum ASIP, mulai dari cup feeder, botol sendok, hingga pipet plastik, semuanya dicoba. Hasilnya, Ziva menolak minum ASIP dari semua media itu. Akhirnya saya menyerah, saya membelikan Ziva botol dot. Ya, terserah orang-orang di luaran sana mau bilang apa, yang penting anak saya bisa dan mau minum ASIP. Awal-awal dicoba minum ASIP dengan botol dot, Ziva juga menolak. Namun, selang beberapa hari dicoba lagi, akhirnya Ziva mau. Alhamdulillah, meski minum ASIP dengan botol dot, tapi Ziva enggak bingung puting dan masih mau menyusu langsung dari PD saya.

Saya beruntung, suami saya sangat mendukung pemberian ASI Eksklusif buat Ziva. Suami mau belajar bagaimana caranya menghangatkan dan memberikan ASIP kepada Ziva. Kebetulan, suami bekerja dari rumah sebagai IT Freelancer, sehingga waktunya bersama Ziva di rumah lebih banyak daripada saya. Suami juga yang paling sering mengingatkan dan menyemangati saya untuk rajin memerah ASI demi Ziva.

Saat sudah masuk kerja, saya berusaha konsisten untuk memerah ASI di rumah sebanyak dua kali, yakni sebelum tidur malam dan pagi sebelum berangkat kerja. Sedangkan di kantor, saya memerah ASI minimal satu kali, atau bisa dua kali jika pekerjaan sedang tidak banyak. Jangan dibayangkan tempat saya memerah ASI di kantor adalah ruangan nyaman dengan pendingin ruangan sejuk dan sofa yang empuk, ya? Mau tahu saya biasa memerah ASI dimana? Tepatnya adalah di gudang tempat menyimpan kardus-kardus bekas, dimana kalau sudah sepi tempatnya terasa horor. Pernah suatu kali saya memompa di sore hari, tiba-tiba beberapa kardus jatuh dari rak. Mau kabur, nanggung, sebab ASI sedang deras-derasnya. Sayang, kalau enggak ditampung di botol pompa ASI. Akhirnya, saya hanya bisa pasrah sambil terus memerah ASI dan komat kamit berdoa, hahaha.

Produksi ASIP saya tidak berlimpah seperti mama-mama lain yang stock ASIP-nya bisa sampai tiga freezer. Saya lebih sering kejar tayang dalam memerah ASI. Untung jarak rumah dengan kantor berdekatan, cuma 15 menit naik motor. Jadi, sering ASIP hasil memerah di siang hari langsung diantar ke rumah oleh OB kantor. Walaupun stock ASIP saya pas-pasan, namun saya tetap berupaya memberikan ASI Esklusif buat Ziva. Alhamdulillah, Ziva sukses ASI Ekslusif hingga usianya enam bulan. Saya juga melanjutkan memberikan ASI buat Ziva sampai dia berumur dua tahun, ya, meskipun pada usia 18 bulan Ziva sudah campur sufor. Itu pun terpaksa karena saat usia 18 bulan, Ziva sudah tidak mau minum ASIP lagi. Namun, untungnya dia masih mau menyusu langsung, sampai usianya dua tahun. Saya bersyukur bisa menuntaskan kewajiban memenuhi hak Ziva mendapatkan ASI selama dua tahun. Ya, walaupun ada beberapa hal yang jauh dari sempurna.

Menurut saya, penentu keberhasilan seorang ibu bekerja bisa sukses menyusui adalah tekad yang kuat dan support system yang bagus, baik di lingkungan rumah maupun kantor. Saya beruntung suami dan ART saya mau membantu saya memberikan ASIP buat Ziva. Begitu pula dengan kantor saya, yang memberikan waktu buat saya memerah ASI, menumpang menyimpan ASIP di kulkas kantor, dan mengijinkan OB membantu mengantarkan ASIP saya ke rumah. Harapan saya, semoga makin banyak ibu-ibu bekerja di Indonesia yang tetap bisa memberikan ASI untuk anak-anaknya. Yang penting tekad dan kemauan untuk berjuang mengusahakan ASI.

***

My Story kali ini ditulis oleh Mama Cita, mama dari seorang putri cantik bernama Zivara Medina Putri Nurhadi dan karyawati di salah satu perusahaan makanan di daerah Cikarang, Jawa Barat. Mama Cita bisa dikontak melalui blognya: www.journal.citandy.com



0 Comments on "Ibu Bekerja Pun Bisa Sukses Memberikan ASI"


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a Reply