My Story

Hamil Kedua Dengan Riwayat TORCH

June 7, 2017 By 0 Comments

Yes, you read it right. Kali ini saya mau cerita ABC nya hamil dengan riwayat TORCH. Ini bukan mau menggurui, tapi sekedar sharing pengalaman saja. Pengalaman siapa? Pengalaman saya sendiri. Pengalaman saya saat hamil Ubii? Of course NOT, karena saat itu saya sama sekali ENGGAK tau kalau saya terinfeksi Rubella yang masuk dalam kelompok TORCH. Lalu? Yes. Ubii mau punya adek. Bahahahahaha. Ini ketawa tengah-tengah. Antara seneng tapi juga galau. LOL.

 

Pertanyaan pertama: Memangnya kamu sudah berencana kasih Ubii adek?

Jawaban: Belum. Malah lagi sama sekali nggak mikirin itu.

Pertanyaan kedua: Lhah, terus kok bisa hamil?

Jawaban: Iya, kebobolan (Kebobolan atau kesundulan sih istilahnya?)

Pertanyaan ketiga: Lhah, emang nggak KB?

Jawaban: Enggak. KB denk, KB kondom dan tissue -___- (Lhoh itu termasuk KB, kan?)

Pertanyaan keempat: Udah tau belum siap punya anak dan belum pengen, kenapa nggak KB spiral?

Jawaban: Err.. go judge me lah. ūüėÄ

Siapa yang wondering kenapa saya nggak KB spiral padahal belum siap punya anak lagi? Here are some reasons, whether it might sound sensical or not. Satu, saya beneran takut ada ‘sesuatu’ yang asing yang dimasukkan dalam tubuh saya lewat ‘situ.’ Suer, takut. Kata mertua, kata temen-temen, kata tetangga, dll sih nggak sakit. Lagian, sudah pernah melahirkan masa takut ama spiral. Yaaa, namanya orang kan beda-beda.

 

Kedua, saya takabur. Takabur? Maksudnya? Jadi gini. Saat saya melahirkan Ubii, akhirnya saya melahirkan secara SC padahal sudah bukaan lengkap alias 10 loh. Sakitnya tuh di sini…. *nunjuk ‘itu’* Tapi, mungkin itu yang terbaik menurut-Nya. Karena ternyata dengan SC, dokter jadi menemukan kista yang sudah mengganas di indung telur saya. Menurut obsgyn saya, kista tersebut sudah lumayan menyebar dan melengket sehingga indung telur kiri saya sudah acak adut (saya nggak tau deh diksi medisnya, maap). Jadi, masih menurut obsgyn, yang berfungsi masih baik hanyalah indung telur kanan saya. (Kayaknya) Sangking sudah melengket dan menyebar kistanya sedemikian rupa, obsgyn sampai mengeluarkan statement, “Wah mukjizat banget Ibu masih bisa hamil. Harusnya sudah susah lho kalau kistanya sampai kayak begini.”

 

Jadi, paham, ya asal-muasal saya takabur -___- Yes. Saya pikir setelah punya Ubii yang berteman dengan kista di dalam saya (aneh banget nggak sih bahasa nya), saya bakal nggak segampang ini hamil. Makanya masih pede-pede aja nggak pakai KB spiral (yang katanya paling manjur itu). Lesson learned: Jangan takabur! *ngek*

 

Pertama kali yang bener-bener pertamaaaa kaliiii saya kayak ngerasa, “Kok kayaknya aku hamil ya” itu pas saya sedang di Jakarta akhir Januari lalu. Jadi cuma cek en ricek dengan 4 buah testpack yang hasilnya.. positif semua. Masih berharap testpack nya salah sih. Jadi sehari setelah sampai di Jogja Istimewa (slogan terbaru kota saya, sekalian ikut promosi boleh lah ya) lagi, saya langsung cuss ke obsgyn. Obsgyn nya seadanya. I mean, yang lokasinya paling dekat saja dan yang jadwalnya nggak padat-padat amat, karena saya keburu pengen memastikan dengan USG.

 

Jumat, 30 Januari 2014, saya mindik-mindik cuss ke obsgyn sendirian. Nggak sama suami karena dia bekerja. Nunggu dia pulang kerja, nggak sabar banget saya. Yaudah sendiri biar cepet *penting -__-* Dan…. testpack ternyata beneran canggih, ya? Ish. Saya positif hamil betulan. Menurut obsgyn sambil menunjuk layar USG, saat itu kantong kehamilan sudah nampak. Baru itu sih, belum terlihat bentuk kacang mede nya. Menurut perkiraan, usia kehamilan saya saat itu adalah 6 minggu-an. Perkiraan, karena saya suka lupa mencatat jadwal mulai dan berhenti menstruasi saya. Soalnya nggak pernah sama, maju-mundur terus, lupa deh. *alasan*

 

Sontak saya… menangis sesenggukan. Obsgyn dan nurse sampai bengong dan bingung menenangkan saya. Ya akhirnya saya ceritakan ketakutan saya. Tentang Ubii. Saya cerita riwayat TORCH saya. Saya cerita tentang Ubii yang sampai saat ini masih amat sangat butuh assistance karena ketinggalannya masih sangat amat jauh dari anak seusianya. Saya cerita tentang sebetulnya kami sedang berikhtiar untuk mengupayakan perbaikan pendengaran Ubii yang membutuhkan biaya yang nggak sedikit sehingga rasanya secara ekonomi kami nggak sanggup kalau harus punya tanggungan satu lagi. Dan, yang tersedih, saya cerita kalau saya sama sekali belum mempersiapkan ini. Belum mempersiapkan artinya adalah: belum screening TORCH untuk tau bagaimana status TORCH saya saat ini, belum tau apakah tubuh saya sudah siap hamil karena sudah merdeka dari TORCH. Merdeka? Bagaimana mungkin saya merdeka? Memangnya virus itu bisa mati? Enggak. Virus cuma tidur. Karena sudah mulai belajar dan sedikit memahami karakteristik TORCH, jelas saya ketakutan luar biasa. Bagaimana kalau ternyata TORCH saya masih mengganggu? Bagaimana kalau misalkan memang¬†hamil dengan riwayat TORCH¬†saya ini menganggu, lantas perkembangan janin saya terganggu sehinga saya akan memiliki special need kid lagi? Bagaimana kalau saya harus membesarkan seorang anak lagi yang berkebutuhan khusus? Mana saya sanggup? Nggak bakal sanggup. Dari segi apa pun. Ekonomi, kesabaran, kesiapan, ekspektasi, waktu, tenaga, semuanya deh!

 

Di tengah ketakutan yang membuncah kayak gitu, saya juga terbeban dengan perasaan gagal. Gagal memberi edukasi positif pada teman-teman di Rumah Ramah Rubella, pada para ibu yang pernah hamil dengan riwayat TORCH, para ibu yang ingin merencanakan kehamilan, pokoknya semua. Selama ini saya kan selalu koar-koar tentang gimana caranya supaya kehamilan dan janin para calon ibu bisa sehat dan terbebas dari TORCH sehingga nggak lahir ke dunia dengan kebutuhan khusus. Selama ini saya kan selalu menyuruh-nyuruh teman-teman saya yang akan dan habis menikah untuk screening TORCH supaya kehamilannya kelak bisa aman. Selama ini saya kan kampanye tentang itu. Lhah, kok malah saya gagal menunaikannya. Kalau mau membela diri, saya bilang ini karena saya memang belum berencana hamil. Jadi bakal screening TORCH de-el-el nya itu nantiiii ketika kami memang sudah siap memberikan adik buat Ubii. Tapi, gagal tetap saja gagal. Titik. Am I being too hard on myself?

 

Intinya, I felt like I’ve let people down. People who believe in me. People who want to believe in me. And, I’m sorry for that. However, what happened – happened. Seberapa keras dan sering saya menangis dan meratap, mengubah keadaan nggak? Big NO. Pilihannya kan cuma hadapi dengan setangguh mungkin. So, let me share what I did, am doing, and will do.

 

Once again, bukan untuk menggurui (karena saya udah fail hahaha), tapi untuk kalian ibu-ibu yang kayak saya: punya riwayat TORCH sehingga memiliki anak berkebutuhan khusus / pernah keguguran / trauma punya anak lagi / pengen banget punya anak setelah keguguran – yang semuanya disebabkan oleh TORCH. Oh yes, TORCH can be that mean and evil.

 

Jadi, ketika saya bilang saya punya riwayat TORCH, sebenernya agak kurang tepat sih karena saya ‘hanya’ punya riwayat RCH (Rubella, Cytomegalo [CMV], dan Herpes Simplex [HSV]). Toksoplasma belum menunjukkan batang hidungnya (kalau emang punya idung) di tubuh saya – well, semoga jangan sampai ya. Biar nggak komplit TORCH nya. HAHAHA.

 

Lalu, apa yang saya lakukan ketika akhirnya yakin saya positif hamil dengan riwayat TORCH yang saya belum tau gimana statusnya sekarang?

 

1. Screening TORCH segera = nggak bisa ditawar lagi.

 

Kalau sudah di posisi seperti ini, rasanya biaya yang mahal harus dikesampingkan yah.. Karena sebaiknya tau segera gimana status TORCH kita. Kalau saya kemarin, berhubung pengen segera, jadi saya screening atas biaya pribadi. Untuk screening, bisa saja langsung ke lab seperti Pramita, Cito, Prodia, Parahita, atau lab-lab di RS. The choice is yours. Langsung maksudnya tanpa bawa rujukan dari dokter. Lumayan, hemat waktu dan hemat ongkos untuk jasa dokter. Biasanya kalau ambil sekaligus semua komponen dalam TORCH, akan lebih hemat daripada kalau satu-satu misal Toksoplasma dulu, kemudian disusul Rubella, dan seterusnya. Berhubung kemarin saya ke obsgyn duluan karena keburu pengen USG, jadi saya minta rujukan sekalian. Tapi dalam surat rujukan, komponen yang dicontreng hanya Toksoplasma, Rubella, dan CMV tanpa HSV. Nah karena saya ada riwayat HSV-1 dan HSV-2, maka komponen tersebut saya contreng sendiri baik IgG maupun IgM nya.

 

Tapi, kalau biaya menjadi kendala. Ada baiknya kita punya BPJS. Saya dengar seorang kawan pernah screening TORCH dengan penjaminan BPJS. Tapi, kalau mau screening TORCH dijamin BPJS, sudah tentu harus ada surat rujukan dari dokter ya, yang diagnosa nya menunjukkan bahwa kita memang perlu banget untuk screening TORCH. Kalau memang butuh tau hasilnya segera, opsi mengurus BPJS sepertinya agak makan waktu.. Apalagi kalau kita belum punya BPJS, jadi harus membuat dulu. Makanya, lebih baik punya BPJS begitu ada waktu untuk bikin, nggak harus nunggu sakit.

 

Untuk Toksoplasma, Rubella, dan HSV, saya cek semua baik IgM maupun IgG nya. Aviditas nggak terlalu penting rasanya (CMIIW). Untuk CMV, selain IgM dan IgG, saya minta Antigenemia Urine dan Darah juga.

 

2. Cari obsgyn sub-spesialis fetomaternal / Sp.OG-KFER

 

Kita tentu tau yah, dokter spesialis kandungan pun masih punya sub-spesialis lagi. Ada subspesialis Onkologi (Sp.OG-K.Onk). Obsgyn subspesialis Onkologi ini khatam tentang kanker/tumor kandungan yang ganas atau yang jinak. Kedua, ada subspesialis Fertilitas Endikronologi Reproduksi (Sp.OG-KFER). Obsgyn dengan subspesialisasi ini khatam tentang hormon dan kesuburan. Last but not least, subspesialis feto-maternal (Sp.OG-KFM). Yang terakhir ini yang ingin saya tuju. Obsgyn subspesialis Feto-maternal adalah obsgyn yang menangani kehamilan resiko tinggi, penyakit ibu hamil, dan diagnosa gangguan janin. Dengan berkonsultasi dengan obsgyn feto-maternal, ada beberapa kelainan yang dapat dideteksi seperti kelainan kromosom, kelainan otak, kelainan dinding perut, kelainan ginjal, kelainan area dada, kelainan jantung bawaan (ini dimiliki oleh Ubii), kelainan tungkai bawah, dan/atau kelainan pada wajah.

 

Dengan riwayat Rubella, CMV (Antigenemia Darah positif di tahun 2014), dan HSV 1-2, saya merasa wajib hunting obsgyn feto-maternal. Sudah ketemu. But the story will be told in the next blogpost yah.

 

Kayaknya saya nggak perlu menjembrengkan (is that even a word?) kenapa hamil dengan riwayat TORCH sebaiknya menemukan obsgyn feto-maternal yah.. Tentu saja, supaya apa-apa dalam kehamilan kali ini bisa terdeteksi dan tertangani dengan lebih baik. Amin. Amin. Amin.

 

3. Keep up our positive mind

 

Mungkin ini yang namanya sugesti, entahlah. Tapi pikiran positif niscaya menghasilkan hasil positif. Kalau ditanya apakah saya sudah bisa berpikiran positif, well, honestly belum 100% bisa. But I am trying my best. Katanya janin baru bisa ‘merasa’ dan ‘mendengar’ ibunya baru di trimester-trimester ke dua atau tiga. But let’s just start doing it anway.. Saya sesekali mengelus perut sambil mengirim sugesti, “Kamu sehat, kamu sehat” – walau rasanya masih agak aneh. Hehehe.

 

Percaya bahwa Tuhan punya selera humor yang luar biasa. Maksudnya, ketika ini semua tampak impossible di mata kita manusia, but it still happens anyway, berarti Tuhan tau kita mampu. Dan, Tuhan pasti punya rencana indah untuk itu. Yakini saja.. Apa pun itu.

 

4. Mulai perbaiki pola makan dan gaya hidup

 

Buat ibu-ibu yang sudah terbiasa punya pola makan dan gaya hidup sehat, selamat, berarti ini nggak menjadi PR lagi. Hehehe. Buat saya jadi PR. Dulu saya makan serampangan, nggak terlalu suka sayur soalnya. Tidur dalam sehari cuma beberapa jam karena begadang entah ngapain. Dan jarang banget gerak badan. Dan jarang mandi….. Hehehe. Sekarang itu semua harus diubah (paling nggak sampai adiknya Ubii lahir, terus balik jarang mandi lagi, buahahaha).

 

Buat ibu-ibu yang nggak hobi dan nggak pintar masak kayak saya, dan yang biasanya masak nasi doank lalu beli lauk di luaran (kayak saya banget ini), mulai kurangi jajan deh. Perbanyak makan sayur. Saya simple aja caranya. Sekarang nyetok sayur macam bayam, kacang panjang, kangkung, dan sebangsanya. Tinggal direbus saja, lalu cocolkan ke sambel pecel. Nggak ribet sama sekali, kan?

 

Saya sering banget ngemil. Biasanya saya ngemil Maicih (level 5), lidi pedes, makaroni pedes, Karuhun (level medium), dan kawan-kawannya yang pedes-pedes. Sekarang jelas harus mulai kurangin. Nyetok buah deh. Jadi ngemilnya diganti buah aja. Bisa juga crackers, yoghurt, atau oatmeal. Saya biasanya nyetoknya pepaya dan apel.

 

Masalah minum juga mulai saya perbaiki. Biasanya kalau lagi pengen minuman berasa, bikin sirop ABC (itupun dibikin manis banget alamak!) atau lebih instan lagi, panggil Kang Cendol (yang gulanya juga manis banget astagah), sekarang nyetok apaaaa? Jeruk nipis! Hahaha. Jadi hampir tiap siang (asal nggak pas males), saya bikin wedang jeruk nipis. Pilih jeruk nipis karena terjangkau di kantong dibanding yang lain. Dan nggak usah ribet ngeblender, kan tinggal diperes. Hehehe.

 

Tiap pagi, usahakan gerak badan. Ya tentunya bukan push up sit up scout jump yah. Saya cukup jalan kaki ngiterin komplek sambil dorong Ubii di stroller. Jangan lupa sambil hirup napas – hembuskan – hirup napas – hembuskan. Yang sampai perutnya menggembung itu loh. Untuk mengirim oksigen ke janin kita. Katanya sih gitu. Bener nggak sih? Hehehe.

 

Terakhir, pola tidur nih yang paling challenging untuk diperbaiki. Karena nggak ada ART, semua harus dikerjain sendiri, otomatis saya baru bisa ngerjain urusan pribadi itu malem-malem. Nunggu Ubii tidur. Alhasil jadi begadang, kan? Udah harus dikurangi banget begadangnya. Caranya: relakan kalau produktivitas memang harus jadi menurun. Itu cara yang paling realistis sih.. Dan, yang jelas jadi harus menyesuaikan target yang ingin dicapai yah. I’m doing that. Nggak gampang sih, tapi harus karena sekarang saya makan, tidur, merasa, berpikir, dan lain-lain buat janin saya juga.

5. Jangan lupakan si kakak

Membangun pola makan dan hidup yang lebih baik supaya kehamilan yang ini lebih dilancarkan rasanya jadi prioritas utama saya saat ini. Eits, tapi jangan lupa, ada Ubii yang masih sangat membutuhkan saya. Beberapa kali Ubii jadi terkesampingkan. Pertama, saat saya masih dalam fase denial. Saat saya masih belum bisa ikhlas menerima kehamilan ini. Jadi kayak orang linglung. Otomatis, mengurus Ubii jadi nggak sepenuh hati. Ngapa-ngapain juga jadi nggak sepenuh hati denk.

Sekarang setelah bisa ikhlas, saya merasa jadi rada lebay. Lebay pengen mengupayakan apa pun semaksimal mungkin yang bisa saya lakukan supaya yang saya takutkan enggak terjadi. Ubii sempat keteteran juga. Hehehe. Saya yang nggak bisa masak dan jarang banget masak jadi suka masak sendiri. Karena masih cupu banget, masaknya jadi lama bukan main. Hahaha. Pernah gosong segala padahal cuma goreng kentang -_____- Kalau masaknya kelamaan begitu, Ubii melongo deh duduk nungguin saya masak. Nah kalau capek sampai kecapekan banget, saya kan udah pengen tegas: harus segera stop kegiatan dan rebahan. Kalau udah capek banget padahal itu belum jam tidur siang Ubii, gimana? Ya saya rebahan terus Ubii cuma main-main di kasur aja. Hamil dengan riwayat TORCH ini bikin saya akhirnya merasa perlu punya ART. Tapi nggak dapet-dapet… *curhat*

Jadi, jangan lupakan si kakak untuk saya pribadi artinya adalah better time management! Mengatur jadwal lebih rapih lagi supaya masakan saya sudah selesai sebelum Ubii bangun tidur. Mengatur aktivitas dan tenaga supaya capeknya itu pas jam Ubii bobok siang. Dan tentu saja, tetap nggak boleh lupa bahwa Ubii tetap segalanya buat kami.

6. Cuci tangan dengan air dan sabun

Cuci tangan adalah cara mudah dan murah untuk mencegah infeksi virus dan bakteri, termasuk TORCH di dalamnya. Tapi, tentu saja, cuci tangan nya harus pakai air dan sabun juga dengan langkah-langkah yang betul seperti anjuran WHO. Jadi memang, semenjak hamil ini, saya jauh lebih memperhatikan etika mencuci tangan. Langsung sedia sabun anti bakteri macam Dettol baik untuk sabun batangan mandi, sabun cair cuci tangan, dan hand sanitizer untuk dibawa bepergian (ini bukan iklan Dettol yah!).

Memperhatikan etika cuci tangan buat saya berarti lebih memperhatikan kapan saya perlu cuci tangan. Dulu masih suka bandel. Sekarang perlu lebih disiplin. Kalau cuci tangan sebelum dan setelah memasak itu jangan ditanya, kan sudah pasti. Nah sekarang saya lebih rajin setelah mengurus Ubii. Saya masih mengerjakan semua sendiri. Termasuk di dalamnya memandikan, menyuapi, dan mengganti popok Ubii. Sekarang, sehabis menyuapi dan mengganti popok, saya pasti cuci tangan. Karena yang namanya air liur, urine, dan tinja anak dengan riwayat CMV dan Rubella, siapa yang bisa menjamin sudah bersih dari virus? Jadi saya nggak mau ambil resiko saja. Etika cuci tangan yang lebih baik ini juga harus dijejalkan ke suami. Jadi Papi Ubii mau-nggak-mau ikutan walau kadang dia masih suka rada males. Buehehehe.

7. Jangan sampai virus-virus nakalin saya lagi

Kenapa saya jadi getol berusaha menjaga kesehatan, berusaha tidur yang cukup, berusaha menjaga pikiran positif, dan kawan-kawannya? Supaya CMV dan HSV saya nggak nakal-nakal lagi. Please remember that Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes Simplex (HSV) itu adalah virus golongan DNA yang sangat bisa untuk reaktivasi = menjadi aktif kembali. Kapan biasanya mereka reaktivasi? Biasanya saat daya tahan tubuh kita sedang drop alias nggak bagus-bagus amat. Kapan daya tahan tubuh kita drop? Nah, itu tergantung kita sendiri. Each of us harus tau sinyal-sinyal tubuh masing-masing kalau sudah mulai capek. Kalau sudah mulai ada sinyal, sebaiknya segera istirahatkan tubuh dan pikiran, ya..

Berhubung saya sudah hidup dengan CMV dan HSV, saya sudah mulai mengenal ritme tubuh saya kalau salah satu atau kedua virus itu akan aktif lagi. Kalau HSV-2, biasanya area genital saya terasa gatal dan perih. Lalu akan muncul lesi setelahnya. Kalau CMV, biasanya saya selalu lemas dan pusing terus. Pusingnya itu yang bener-bener sakit sampai nggak kuat ngapa-ngapain lagi.

Berusaha menjaga pola makan yang baik dan tentunya bersih, adalah salah satu upaya supaya saya nggak terinfeksi Toksoplasma. Jangan sampai TORCH saya jadi komplit. Hehehe. Kalau Rubella sih nggak terlalu perlu dikhawatirkan lagi karena virus Rubella adalah golongan RNA yang punya sifat protektif. Rubella nggak memiliki sifat bisa reaktivasi seperti CMV dan HSV.

Kalau ada yang mengalami apa yang saya alami: kebobolan hamil dengan riwayat TORCH padahal anak pertama masih menjalani banyak upaya kesembuhan, there there, peluk dulu. Galau banget pasti ya. Galau, sedih, marah, dan campur aduk. Tapi ya itu tadi, yang sudah terjadi ya sudah. Yuk, kita angkat kepala dan siap berperang lagi. Berperang melawan kegalauan dan keputusasaan. Ayo bangkit dan mulai gerak, cari tau apa-apa saja yang perlu dites, disiapkan, ditanyakan, diobati, dan lain-lain. Usahakan ketemu obsgyn yang cocok dan memahami resiko hamil dengan riwayat TORCH kita, ya. Dan tentunya yang informatif dan mau kasih sugesti positif tentang kehamilan kita. Dan jangan sampai kegalauan kita berkepanjangan terus anak kita yang sedang menjalani terapi ini-itu jadi kurang diperhatikan. Kemaren sempet setengah hati mengurus Ubii, untung suami support banget. Ayo kalian semangat juga ya :))

Oh ya, terakhir, saya pengen ngajak kalian untuk sama-sama baca-baca tentang TORCH. Ada 4 pamflet edukasi yang saya sertakan di post ini tentang: Toksoplasma, Rubella, CMV, dan HSV. Masing-masing ada bagian penyebab, penularan, pencegahan, diagnosa, dan dampaknya pada janin.

Pamflet-pamflet itu kalau mau dicetak, diperbanyak, atau dishare – monggo yah. Saya malah seneng kalau bisa bermanfaat. Konsultasi dengan obsgyn subspesialis feto-maternal di blogpost berikutnya, yaaaa ^____^

Kalau ada mama-mama lain yang sedang hamil dengan riwayat TORCH seperti saya, peluuuk. Semoga segala sesuatunya diberi kemudahan yah. Saling mendoakan dan jangan lupa aktif cari tau apa-apa saja yang perlu difollow-up.

I share because I care, how abot you?

 

Love,

Grace Melia

***
Penulis adalah Grace Melia Kristanto. Founder  Rumah Ramah Rubella. Ibu dari dua anak Aubrey dan Aiden. Saat ini berdomisili di Kota Yogyakarta. Bisa dihubungi melalui blognya: www.gracemelia.com



0 Comments on "Hamil Kedua Dengan Riwayat TORCH"


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a Reply