Sebagai seorang Mama, tentu ingin memberikan ASI secara eksklusif untuk buah hati bukan? Apalagi jika memungkinkan sampai usianya 2 tahun. Namun, keadaan yang tidak terduga sering kali membuat hal ini menjadi sebatas impian saja bagi Mama.

 

Ada banyak faktor yang memengaruhi akhirnya Mama tidak dapat memberikan ASI secara eksklusif. Mulai dari kondisi pekerjaan dan keluarga yang kurang kooperatif untuk Mama, dengan tidak mendukung keinginan Mama tersebut. Kondisi kesehatan Mama yang tidak memungkinkan untuk memberikan ASI, atau produksi ASI Mama yang cenderung sedikit bahkan hampir tidak keluar.

 

Mengetahui hal tersebut, Mama sebagai seorang Mama yang kebetulan juga sedang menyusui dan bersyukurnya memiliki produksi ASI yang melimpah tentu merasakan betapa sedihnya perasaan Mama yang mengalami hal tersebut.

 

Untuk itu, Mama mengambil inisiatif menjadi seorang pendonor ASI bagi buah hati yang Mamanya memiliki keadaan tersebut. Tapi, tunggu dulu Ma. Sebelum memutuskan untuk lanjut menjadi seorang pendonor, alangkah baiknya jika Mama mengetahui dahulu apa itu pendonor ASI dan bagaimana caranya yang telah Rumpibayi rangkum di bawah ini.

 

 

Donor ASI

Istilah donor ASI menjadi trending beberapa waktu belakangan ini. Hal ini sedikit banyak dikarenakan gencarnya kampanye ASI eksklusif yang digalakkan hampir di seluruh belahan dunia. Namun beberapa keadaan seperti yang telah disebutkan di atas, membuat beberapa Mama menjadi tak dapat melakukan pemberian ASI secara eksklusif.

 

WHO atau World Health Orgabization sebagai badan kesehatan dunia kemudian memberikan beberapa rekomendasi termasuk dengan alur sumber ASI yang dapat digunakan untuk mewujudkan ASI eksklusif bagi buah hati. Urutan tersebut yaitu (1) ASI langsung dari ibu kandung, (2) ASI perah dari ibu kandung, (3) ASI donor dari ibu lain, dan (4) susu formula.

 

Dengan diberinya rekomendasi ini tentu membuat Mama dengan keterbatasan ASI menjadi sedikit merasakan secercah harapan, begitupun dengan Mama yang memiliki produksi ASI lebih dapat membantu Mama lain.

 

 

Bagaimana cara menjadi Pendonor ASI?

Sebelum menjadi pendonor ASI, Mama harus terlebih dahulu melewati proses penapisan. Proses penapisan ini dibagi ke dalam dua tahap, yaitu Penapisan I dan Penapisan II.

 

Penapisan I

  1. Memiliki bayi berusia kurang dari 6 bulan
  2. Sehat dan tidak mempunyai kontra indikasi menyusui
  3. Produksi ASI sudah memenuhi kebutuhan bayinya dan memutuskan untuk mendonasikan ASI atas dasar produksi yang berlebih
  4. Tidak menerima transfusi darah atau transplantasi organ/jaringan dalam 12 bulan terakhir
  5. Tidak mengkonsumsi obat, termasuk insulin, hormon tiroid, dan produk yang bisa mempengaruhi bayi. Obat/suplemen herbal harus dinilai kompatibilitasnya terhadap ASI
  6. Tidak ada riwayat menderita penyakit menular, seperti hepatitis, HIV, atau HTLV2
  7. Tidak memiliki pasangan seksual yang berisiko terinfeksi penyakit, seperti HIV, HTLV2, hepatitis B/C (termasuk penderita hemofilia yang rutin menerima komponen darah), menggunakan obat ilegal, perokok, atau minum beralkohol

 

Penapisan II

  1. Harus menjalani skrining meliputi tes HIV, human T-lymphotropic virus (HTLV), sifilis, hepatitis B, hepatitis C, dan CMV (bila akan diberikan pada bayi prematur)
  2. Apabila ada keraguan terhadap status pendonor, tes dapat dilakukan setiap 3 bulan
  3. Setelah melalui tahapan penapisan, ASI harus diyakini bebas dari virus atau bakteri dengan cara pasteurisasi atau pemanasan

 

Selain melakukan rangkaian proses pada tahap Penapisan, ada beberapa informasi lagi yang harus Mama ketahui jika ingin menjadi pendonor. Beberapa langkah ini merupakan bentuk penjagaan terhadap mutu, sterilitas, dan keamanan dari ASI yang nantinya akan Mama donorkan sehingga tidak terjadi sesuatu yang mungkin dapat membahayakan bagi buah hati penerima donor ASI.

 

Akan lebih baik jika Mama pendonor mendapatkan pelatihan bagaimana cara memerah, menyimpan, juga menjaga agar ASI tetap dalam keadaan steril dengan menjaga kebersihan sebelum, saat, dan setelah pemerahan ASI.

 

Sebelum memerah ASI dianjurkan untuk mencuci tangan terlebih dahulu dengan air mengalir dan sabun, kemudian mengeringkan tangan. Usahakan untuk mencari tempat yang bersih dan steril saat memerah ASI, perhatikan juga kebersihan dari alat pemerah ASI. Hindari menggunakan alat yang bahannya mudah terkontaminasi. Kemudian simpan ASI perah dalam botol kaca khusus yang dilengkapi dengan tutup, atau plastic container berbahan polypropylene atau polycarbonate, bisa juga dengan menggunakan botol susu bpa free.

 

Setelahnya, lakukan pasteurisasi dahulu terhadap ASI perah sebelum disimpan. Ada dua cara pasteurisasi yang bisa Mama lakukan.

 

Pasteurisasi Pretoria

  1. Tempatkan ASI sebanyak 50-150 ml kedalam wadah kaca (sisa selai) 450 ml.
  2. Tutup wadah kaca dan letakkan ke dalam panci aluminium 1 liter
  3. Tuangkan air mendidih 450ml atau hingga permukaan air mencapai 2 cm dari bibir panci
  4. Dapat diletakkan pemberat diatas wadah kaca, kemudian tunggu selama 30 menit
  5. Pindahkan susu, dinginkan, dan berikan kepada bayi atau simpan di lemari pendingin

 

Flash Heating

  1. Tempatkan ASI sebanyak 50-150 ml kedalam wadah kaca 450 ml
  2. Wadah kaca ditutup sampai saat dilakukan flash heating
  3. Untuk melakukan flash heating, buka tutup wadah dan letakkan dalam 1 liter Hart Pot (pemanas susu)
  4. Tuangkan air 450 ml atau hingga permukaan air mencapai 2 cm dari bibir panci
  5. Didihkan air, bila telah timbul gelembung pindahkan wadah dengan cepat dari air dan sumber panas
  6. Dinginkan ASI, berikan kepada bayi atau simpan di lemari pendingin

 

Selain proses teknis yang telah dijabarkan di atas, ada baiknya juga untuk mama melakukan proses administratif seperti pencatatan yang mencakup keterangan identitas mama sebagai pendonor, lembar persetujuan, kuisioner, dan data pelengkap administrasi lainnya. Hal ini sebagai penguat bahwa ASI yang Mama donorkan dalam keadaan baik dan tidak akan memberi risiko terhadap buah hati penerimanya.

 

Masalah donor ASI ini sendiri juga telah menjadi concern untuk  pemerintah, dibuktikan dengan disusunnya peraturan tentang donor ASI, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif pada Bagian Tiga Pendonor Air Susu Ibu Pasal 11 – 12.

 

Berikut merupakan isi dari pasal tersebut.

Bagian Ketiga

Pendonor Air Susu Ibu

Pasal 11

(1) Dalam hal ibu kandung tidak dapat memberikan ASI Eksklusif bagi bayinya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, pemberian ASI Eksklusif dapatdilakukan oleh pendonor ASI.

(2) Pemberian ASI Eksklusif oleh pendonor ASI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan persyaratan:

  1. permintaan ibu kandung atau Keluarga Bayi yang bersangkutan;
  2. identitas, agama, dan alamat pendonor ASI diketahui dengan jelas oleh ibu atau Keluarga dari Bayi penerima ASI;
  3. persetujuan pendonor ASI setelah mengetahui identitas Bayi yang diberi ASI;
  4. pendonor ASI dalam kondisi kesehatan baik dan tidak mempunyai indikasi medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7; dan
  5. ASI tidak diperjualbelikan.

(3) Pemberian ASI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) wajib dilaksanakan berdasarkan norma agama dan mempertimbangkan aspek sosial budaya, mutu, dan keamanan ASI.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian ASI Eksklusif dari pendonor ASI sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.

 

Banyak forum dan kelompok yang memberikan layanan untuk donor dan menerima donor ASI ini sehingga memudahkan Mama untuk mendapatkan dan memberikan stok dengan lebih mudah dan cepat. Namun terkadang, Mama pasti masih merasa khawatir, takut, cemas, dan perasaan was-was lainnya.

 

Untuk itu, Mama mungkin dapat terlebih dahulu melakukan konsultasi ke lembaga resmi seperti IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) atau AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) untuk mendapatkan pencerahan dan referensi yang lebih terpercaya tentang donor ASI ini.

 

 

Referensi
IDAI http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/donor-asi

AIMI https://aimi-asi.org/

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*