Pengalaman Pertama Sebagai Ibu  

yoselasm
(@yoselasm)
New Member Registered

#myfirststoryasamom #bloggingcompetition

~1 Feb 2016~
Senin pagi, sehari sebelum engkau lahir, aku masih jalan pagi tanpa alas kaki, berharap bisa merayumu keluar tanpa operasi.
Tapi pagi itu memang berbeda, kaki terasa sangat ringan melangkah seperti bisa berlari, posisimu juga sudah sangat di bawah sampai kupikir hanya butuh satu kali bersin untuk menyambutmu.
Aaah, aneh, tidak ada mulas sama sekali padahal sudah ditunggu sejak 2minggu sebelumnya. Kuputuskan utk periksa lagi.
Malam itu, pukul tujuh. Dokter melihat tak ada kontraksi, menyarankan utk di pacu. Ibuku langsung tak setuju, karena pernah mengalami ini saat kelahiranku dulu dan tak tega membayangkan sakitku. Aku masih tak begitu paham, aku hanya ingin yg terbaik utk anakku.
Sembari tersenyum tipis, dokter menulis sesuatu. "OK, malam ini masuk RSI Singkil, kita ketemu lagi besok jam 5 pagi di ruang operasi, siap ya?

Syok! Mendadak limbung.
Ibuku mengiyakan. Aku hanya diam. Dipapah keluar ruangan. Menemui ayahku di ruang tunggu pasien, tanpa berkata. Ibuku tersenyum penuh arti padanya, "Seperti dugaanku sejak kehamilannya berumur 4bulan, akan lahir cucu kita dg jalan operasi pada tanggal dua bulan dua, ya, besok pagi."

Ayahku dg sigap langsung menelpon kakakku, suamiku, kerabatku, dan entah siapa lagi, aku masih terduduk lemas, lunglai, dan linglung. Sampai di rumah, seharusnya sudah tinggal ganti baju lalu berangkat, namun ada saja yang kurang, baju inilah itulah, surat surat keperluan inilah itulah. Di situasi panik itu, orangtuaku ternyata kehilangan fokus dan akhirnya ribut sendiri, aku masih belum berkata apa2 dan tidak bs membantu apa2, lemas.

~2 Feb 2016~
Suamiku sampai di RS tengah malam. Semalaman aku sulit tidur, bukan karena takut mau operasi, tapi krn AC ruang rawat (16℃) tidak cukup dingin untukku. Ayah, ibu, dan suamiku sudah berembun saat bernafas, tidur berjaket dan kaos kaki, masih dibungkus selimut. Aku yg hanya mengenakan selembar daster tipis malah basah keringat.

Fix keputusan caesar.
Ternyata ayah ibuku menyembunyikan informasi ini. Ibuku mengandalkan feelingnya yg memang kuat sekali. Beliau menuliskan sesuatu di buku hariannya saat kehamilanku masuk 4 bulan;
Cucuku akan lahir melalui SC di tanggal 2 bulan 2 tahun depan

Tetapi demi menjaga kondisi hati dan pikiranku agar tidak panik, selalu di sugesti bahwa aku akan lahir normal ditunggui ibuku sendiri dan didampingi suamiku. Rahasia yg beliau simpan sendiri beberapa bulan yg mengakibatkan tensinya terus naik.

Aku syok berat. Aku marah. Aku marah pada ibuku, sangaaat marah saat mengetahui ini. Marah kenapa aku tak diberitahu sejak awal. Marah kenapa sejauh ini aku disiapkan hatinya utk normal dan hanya diberi waktu SATU HARI utk menerima kenyataan bahwa aku harus operasi. Marah karena merasa dibohongi. Marah karena aku sempat tahu kalau mungkin caesar tapi kekeuh beliau bilang normal. Aku kaget, takut, tidak siap, dan tentu saja marah.
"Mamah menyiapkan mental berbulan-bulan, tapi tega membiarkan aku baru mengetahuinya hari ini. Aku marah." Otot2 wajahku menegang. Aku bergegas tidur saat sudah di ruang rawat.

Aku meneriaki ibuku, membentaknya, memukuli lengannya, mendorongnya hingga terjatuh, menangis sejadi-jadinya. Lalu terbangun. Bersyukur tak jadi durhaka. Kulihat wajah lelah ibuku. Beliau terbangun, kupeluk erat, menangis dan minta maaf sudah mimpi buruk tentangnya. Aku menyadari semuanya dilakukan demi aku. Lelah stress nya ditanggungnya sendiri supaya aku tak ikut panik. Gejolak batin tak diceritakannya supaya tak ada yang khawatir. Aaahh, betapa besar cintamu, ibu.

~2 Feb 2016~
Pukul 04.00 aku mandi pagi krn sdh sangat basah dan lengket rasanya. Guyuran air dingin menyadarkanku, sebentar lagi anakku akan "dikeluarkan" dari perutku. Mulai takut...
Pukul 05.00 kami berdoa bersama. Lalu perawat datang dan menyiapkanku.

Di bawa menuju ruang operasi, aku baru sadar ternyata tak ada satupun keluarga yg diperbolehkan mendampingi. Syok lagi. Ramainya ruang operasi makin membuatku merasa sendiri, karena aku sempat berharap terlalu tinggi bakal melahirkan di dampingi suami.

Bius lokal. Aku sadar. Tapi rasanya malah sebal, haha.. Penasaran ingin membuka tirai yg membatasi pandanganku dg perutku sendiri, tp tak berdaya.
Dokter datang, perutku seperti di uwel2 entah diapakan, sedikit mual. Tak sampai 10 menit, terlihat bayangan dokter mengangkat 'sesuatu' dr perutku. Tak lama, pecahlah tangis pertamamu, anakku. Perasaanku campur aduk, lemas, rasanya melayang mau pingsan. Saat kau didekatkan ke dadaku, mataku gelap berkunang kunang.
Dan aku tak begitu ingat lg setelah itu.

~~~

Masa kehamilan tanpa keluhan berarti.
Mendapat perhatian melimpah dari sana sini, terutama suami.
Tak banyak biaya karena sering kontrol di bidan pribadi, ibuku sendiri.
Melahirkan tanpa merasakan kontraksi karena tak ada pembukaan sama sekali.
Mendapat RS dan dokter yang sangat pro-ASI.
BPJS menanggung biaya operasi.
Luka operasi yg kering dalam sehari.
Sakit bekas operasi yg hilang hanya dalam hitungan jari.

Sungguh kenikmatan luar biasa yg ku alami. Mengingat banyak ibu yg berjuang sepenuh hati, sakit setengah mati, melahirkan dengan biaya tinggi. Betapa baiknya Tuhan itu, memberi kemudahan kelancaran dan keselamatan padaku dan bayiku.

~ Day 0 ~
Aku tidak bisa mengikuti ujian komprehensif hari ini. Malamnya sudah ku kabari semua dosen pengujiku. Ku beranikan menghubungi malam hari karena memang keputusan operasi baru diketahui mendadak. Teman2 kuliah sampai menggodaku untuk memberi nama 'kompre' pada anakku, hehehe.

ASI ku belum keluar, PD ku blm terasa kencang, pun anakku masih di ruang obsv. Ibuku melihat putingku yg datar, panik. Belum pernah menyadari hal ini sampai melihatnya sendiri.
Perawat mengecek, dan benar saja, putingku yg datar 'dikeluarkan' dengan spuit. Aww, sakit sekali, perih pegal ngilu, entah. Masih rancu dengan sakit bekas operasi.

~ Day 1 ~
Suamiku ujian komprehensif pagi ini. Aku melepasnya dengan doa malam tadi. Anakku sudah boleh masuk satu ruangan dgnku. Didekatkannya ke dadaku, mulutnya mencari2 sesuatu. Tapi tak di dapat. Puting datar menyebabkan tak ada 'pegangan' untuk lidahnya. Aku lebih termotivasi melihat anakku sendiri, sakitnya ditarik spuit tak ku pedulikan. Aku ingin menyusuinya segera. Sore itu kolostrum pertama mulai keluar, tapi anakku tak bisa menikmatinya langsung, kuteteskan dari spuit. Dia menangis semalaman karena tak berhasil ku susui.

Malam itu ayah ibuku berjaga berdua, tak bisa bergantian saking kencang suara tangisnya, sementara aku yg belum bisa turun ranjang, sibuk mengatasi putingku memompa agar ASI dapat segera keluar. Tapi yg kuperoleh hanya tetesan...

~ Day 2 ~
Visite dokter, pesannya kalau sudah bisa berdiri dan berjalan, boleh copot kateter dan pulang. Perbanku sudah dibuka krn sudah kering dan boleh mandi. Makin semangat pulang cepat.

Tapi anakku masih belum bisa menyusui. Tangisannya yg sangat keras membuat panik kami bertiga. Seharian anakku menangis kencang, sedih mendengarnya, aku belum bisa menyusui meski ASI ku mulai menetes. Bahkan ibuku hampir menyerah dan meminta ayahku keluar membeli susu. Ayahku keluar kamar, belok ke ruang rawat. Seorang perawat senior ke ruanganku, tersenyum lalu memindahkan anakku dari box bayi ke dekapanku.
"Tak cuma ibu baru yang belajar menyusui, bayi pun belajar menyusu pada ibunya meskipun insting menghisap sudah ada, sabar ya, bunda". Ayahku disarankan membeli breastpump.

Orangtuaku mulai limbung, kelelahan karena terjaga dan menimang semalaman. Aku bingung tak bisa membantu, bahkan berdiri pun aku masih harus dibantu. Aku bertekad segera pulang agar tak makin merepotkan ayah dan ibu.

~ Day 3 ~
Aku sudah bisa duduk, berdiri, dan berjalan sendiri. Aku ingin mandi. Ibuku menemani. Rambutku lengket rasanya. Aku menikmati waktu terbaikku (keramas, luluran, dan mandi berlama lama), yang sampai hari ini masih menjadi 'me time' favoritku.

Melihatku segar bugar, ayahku segera mengurus biaya RS agar aku bisa pulang. Aku agak deg2an mengetahui biaya operasi yg tidak murah. Kutanya padanya, senyumnya mengembang. Ternyata kami hanya membayar biaya susu bubuk utk busui dan pil daun katuk pelancar ASI. Sisanya sudah lunas. PujiTuhan! Syukur tak henti kupanjatkan.
Saatnya kembali ke rumah, dengan tambahan satu warga baru: Cello.

~ Day 4 ~
Kunjungan dari saudara, kerabat, warga jemaat, warga kompleks, berdatangan silih berganti. Aku tau ibuku sangat kelelahan merawatku dan Cello dan masih mengurus rumah tanpa bantuan ART, juga menjamu tamu yg datang, namun tak nampak kewalahan. Aah, aku ingin seperti beliau.

Aku belum bisa bergerak lincah dan menggendong Cello. Jadi ibuku dan suamiku bergantian memandikan Cello.
Berbagai usaha kulakukan agar ASI ku lancar. Sementara Cello terus menangis sepanjang hari, sepanjang malam, sepanjang waktu. Matanya kuning. Saat imunisasi, ditimbang BBnya turun 3ons. Badannya kisut, kulitnya mengerut. Aku hampir menyerah pada susu formula. Tapi dokternya terus support agar bisa ASI eksklusif. Katanya BB nya akan kembali normal, di cek lagi bulan depan.

~~~

Bahagianya kini buah hatiku telah hampir berusia 2 tahun. Teringag saat tangis pertamanya pecah, anakku sudah lahir.

Karena kondisiku tak memungkinkan IMD, kami dipisahkan. Anakku dibawa ke ruang observasi. Suamiku menangis mendengar tangisannya. Makin tersedu saat melihatnya dibawa keluar lebih dahulu. Gerakannya yg aktif dan tangisan yg kencang mengingatkan suamiku pada kehamilanku, saat aku tiba2 meringis menahan ngilu, saat perutku mendadak melebar mengempis sewaktu janin menggeliat. Hanya suamiku yg diperbolehkan masuk ruang bayi. Mengagumi ciptaanNya yg dititipkan dalam rahimku, yang dijaganya berbulan-bulan lalu. Kini sudah nyata dalam dekapan...
Dipandanginya dengan penuh cinta, dikecupnya puteranya, dibisikkannya doa terbaik untuknya.

Valencello...

ReplyQuote
Posted : 07/12/2017 2:28 am
  
Working

Please Login or Register