Highlights

Berbahayakah Mual dan Muntah Saat Hamil?

May 4, 2017 By 0 Comments

Mual dan Muntah saat hamil dialami oleh sebagian besar ibu hamil. Hanya sekitar 20% ibu hamil yang tidak mengalaminya. Sebenarnya, menurut beberapa penelitian, mual dan muntah pada ibu hamil adalah hal yang wajar dan tidak berbahaya. Justru, mual dan muntah yang dialami adalah tanda bahwa kehamilan sehat. Meski demikian, mual dan muntah diangga berbahaya apabila terjadi secara berlebihan.

 

Gangguan mual dan muntah pada ibu hamil ini biasanya dialami saat trimester pertama kehamilan. Namu, ada pula yang mengalami gangguan ini sepanjang masa kehamilannya. Gangguan ini memiliki gejala seperti mual sepanjang hari atau mual ketika mencium bau-bau tertentu, rasa malas mengkonsumsi makanan dan minuman, serta muntah tiga hingga empat kali dalam sehari. Akibatnya, tak jarang mual dan muntah ini menyebabkan berat badan ibu hamil menurun.

 

Penyebab gangguan mual dan muntah pada ibu hamil ini bermacam-macam, yakni:

 

•        Peningkatan kada hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG).

Hormon HCG adalah hormon yang diproduksi oleh plasenta di awal kehamilan. Terbentuknya hormon HCG ini menyebabkan perubahan pada tubuh ibu hamil sehingga menyebabkan rasa mual dan muntah. Sehingga, dapat dikatakan kondisi mual dan muntah ini adalah hal yang sangat wajar terjadi dialami oleh hampir semua ibu hamil.

 

•        Peningkatan hormon estrogen dan progesteron.

Apabila seorang wanita hamil, maka hormon estrogen dan progesteron akan meningkat. Hormon progesteron yang meningkat dapat memicu pergerakan organorgan dalam sistem pencernaan, seperti usus kecil, lambung, sampai kerongkongan, sehingga menyebabkan mual dan muntah. Sedangkan hormon estrogen yang meninggi bisa memicu peningkatan asam lambung. Peningkatan asam lambung ini mengakibatkan ibu hamil mengalami mual dan muntah.

 

•        Rahim mendesak saluran cerna.

Janin yang tumbuh di rahim membuat saluran cerna menjadi terdesak, akibatnya terjadi refluks asam yakni keluarnya asam lambung dari lambung ke tenggorokan. Lambung pun menjadi lebih lambat dalam menyerap sari-sari makanan, sehingga muncul rasa mual dan muntah.

 

•        Sensivitas ibu hamil meningkat terhadap bau/ aroma tertentu.

 

•        Ibu hamil juga beresiko terkena Infeksi Saluran Kencing (ISK) yang bisa memicu mual dan muntah juga.

 

Mual dan muntah tentu saja sangat mengganggu aktivitas ibu hamil. Biasanya mual dan muntah terjadi pada pagi hari sehingga dikenal dengan istilah morning sickness sebab ada rentang waktu lama antara waktu makan sebelumnya dengan berikutnya. Untuk mencegah morning sickness, ibu hamil bisa melakukan beberapa hal berikut:

•        Hindari bau yang terlalu menyengat, seperti bau yang terlalu haru, terlalu busuk, dll.

•        Hindari makan makanan yang memicu asam lambung, seperti makanan yang terlalu pedas, berminyak, dan asam.

•        Sebaiknya jangan teralu lelah, batasi aktivitas, dan perbanyak istirahat jika ada kesempatan.

•        Konsumsi minuman yang melegakan tenggorokan seperti jahe, jeruk panas, dll.

•        Jika mual disebabkan karena makanan, usahakan untuk mengkonsumsi cemilan berat secara berkala.

 

Sekitar 2% ibu hamil bisa mengalami mual dan muntah yang berlebihan. Kondisi ini dikenal sebagai hiperemesis gravidarum. Hiperemesis gravidarum ini merupakan kondisi dimana mual dan muntah tidak terjadi hanya di pagi hari, melainkan sepanjang hari. Frekuensi mual dan muntah pun sering, lebih dari tiga atau empat kali dalam sehari, bahkan ada kasus ibu hamil mual dan muntah sebanyak 50 kali sehari. Selain mual dan muntah yang berkepanjangan, hiperemesis gravidarum juga memiliki ciri-ciri ibu hamil sering pusing, jantung berdebar, dan air liur keluar secara berlebihan.

 

Ibu hamil yang berpotensi terkena hiperemesis gravidarum biasanya adalah ibu hamil yang di kehamilan sebelumnya menderita hiperemesis gravidarum juga. Selain itu para ahli meyakini kondisi ini biasanya terjadi karena ibu hamil memiliki anggota keluarga atau kerabat yang juga terkena  hiperemesis gravidarum. Kehamilan anak kembar dan kehamilan yang abnormal juga diduga sebagai penyebab  hiperemesis gravidarum.

 

Kondisi hiperemesis gravidarum ini, apabila tidak segera diatasi, akan sangat membahayakan bagi kesehatan ibu dan janin, karena kondisi ini memiliki resiko, antara lain:

 

•        Ibu mengalami penurunan berat badan yang drastis.

•        Ibu bisa mengalami dehidrasi.

•        Ibu bisa menderita konstipasi.

•        Ibu terkena hipotensi atau tekanan daerah rendah.

•        Terjadi penggumpalan darah dalam pembuluh vena.

•        Ibu beresiko pingsan secara tiba-tiba.

•        Berat badan bayi akan rendah karena kurang asupan nutrisi dari ibunya.

•        Ibu mengalami masalah psikologis seperti stress dan panik, sehingga bisa mengakibatkan keguguran.

 

Apabila ibu hami mengalami hiperemesis gravidarum, maka sebaiknya segera menemui dokter untuk berkonsultasi. Biasanya, apabila kondisinya belum parah, dokter akan memberikan resep obat antimual. Meski begitu, dokter biasanya juga membutuhkan pemeriksaan detail seperti tes urine, tes darah, maupun USG untuk memastikan apakah ibu hamil benar-benar terkena hiperemesis gravidarum ataukah ada penyebab lain yang menyebabkan kondisi tersebut.



0 Comments on "Berbahayakah Mual dan Muntah Saat Hamil?"


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a Reply